Kamis, Oktober 8, 2026
Google search engine

Pemprov Papua Tengah Resmi Buka ToT MRP, Gubernur Meki Tekankan Afirmasi, Proteksi, dan Pemberdayaan OAP

0

Globalpapua.id, Nabire – Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Tengah menggelar Sosialisasi Otonomi Khusus (Otsus) dan Training of Trainers (ToT) bagi anggota MRP Papua Tengah di Aula Hotel Carmel Kalibobo, Kabupaten Nabire, selama dua hari, 6–7 Juli 2026. Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kapasitas anggota MRP sebagai fasilitator dalam menyosialisasikan implementasi Undang-Undang Otonomi Khusus kepada masyarakat di enam kabupaten di Provinsi Papua Tengah.

Ketua MRP Papua Tengah, Agustinus Anggaibak, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Papua Tengah yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan melalui alokasi anggaran pada DPA Sekretariat MRP Papua Tengah. Senin (6/7/2026).

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar memenuhi agenda kelembagaan, melainkan bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Papua Tengah untuk membangun pemahaman bersama mengenai arah kebijakan Otonomi Khusus di Tanah Papua, khususnya di Papua Tengah.

“Kegiatan ini bukan sekadar memenuhi agenda kelembagaan, tetapi merupakan bagian dari kebijakan pemerintah provinsi untuk meningkatkan pemahaman bersama mengenai arah kebijakan Otonomi Khusus di Tanah Papua, khususnya di Provinsi Papua Tengah,” ujar Agustinus.

Ia menegaskan bahwa Otonomi Khusus merupakan kebijakan konstitusional yang bertujuan memberikan keadilan, perlindungan, dan penghormatan terhadap Orang Asli Papua (OAP), sekaligus mempercepat pembangunan di berbagai sektor.

“Keberhasilan Otonomi Khusus tidak hanya diukur dari besarnya anggaran yang dialokasikan, tetapi dari meningkatnya kualitas hidup masyarakat, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, kesempatan kerja, perlindungan hak ulayat, pemberdayaan ekonomi masyarakat adat, serta terjaganya nilai-nilai budaya Papua,” katanya.

Agustinus menjelaskan, sebagai provinsi yang masih relatif muda, Papua Tengah masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan, mulai dari keterbatasan infrastruktur, pelayanan dasar, kondisi geografis yang sulit, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Karena itu, ia menekankan implementasi Otonomi Khusus harus berlandaskan tiga prinsip utama, yakni keberpihakan kepada Orang Asli Papua, tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), dan pengelolaan Dana Otsus yang benar-benar berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

“Kami percaya Otonomi Khusus akan berhasil apabila masyarakat memahami hak dan kewajibannya. Karena itu, sosialisasi seperti ini sangat penting agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai substansi Undang-Undang Otonomi Khusus,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Agustinus juga mengajak seluruh peserta memanfaatkan kegiatan sebagai ruang belajar dan berdiskusi sebelum nantinya melakukan sosialisasi Otsus di enam kabupaten di Papua Tengah.

Selain membahas implementasi Otsus, Ketua MRP Papua Tengah turut menyoroti kondisi keamanan di sejumlah wilayah pedalaman Papua Tengah yang dinilainya masih memprihatinkan.

“Papua Tengah saat ini sedang tidak baik-baik saja. Masyarakat yang hidup di pedalaman dan lembah-lembah sedang menangis. Pemerintah tidak akan mampu membangun dengan baik apabila rakyat masih hidup dalam penderitaan akibat situasi keamanan,” tegasnya.

Ia mengajak Pemerintah Daerah, DPR, MRP, serta jajaran TNI dan Polri untuk memperkuat kolaborasi dalam menciptakan situasi keamanan yang kondusif agar pembangunan dapat berjalan optimal.

Sementara itu, narasumber kegiatan, Prof. Dr. Melkias Hetharia, menilai sosialisasi tersebut merupakan langkah strategis dalam meningkatkan pemahaman anggota MRP terhadap substansi Undang-Undang Otonomi Khusus.

“Melalui kegiatan ini kita membuka kembali Undang-Undang Otonomi Khusus, mempelajari substansinya, lalu menyampaikannya kepada masyarakat dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami,” kata Prof. Melkias.

Ia memberikan apresiasi kepada MRP Papua Tengah dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah karena menjadi salah satu provinsi baru yang lebih dahulu melaksanakan kegiatan serupa.

“Saya mengapresiasi Ketua MRP dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah yang telah menginisiasi kegiatan penting ini. Kita akan membahas bersama mengenai hak, kewajiban, serta hal-hal yang diperbolehkan maupun yang dilarang dalam implementasi Otonomi Khusus,” ujarnya.

Prof. Melkias juga menegaskan bahwa anggota MRP memiliki modal pengetahuan adat yang kuat sehingga memiliki peran strategis dalam menyampaikan nilai-nilai Otonomi Khusus kepada masyarakat.

Mewakili Gubernur Papua Tengah, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan, SDM, dan Pengembangan Otsus, Meki Fritz Nawipa, melalui sambutan yang dibacakan Ukkas, menegaskan bahwa implementasi Otonomi Khusus harus berlandaskan tiga prinsip utama, yaitu afirmasi, proteksi, dan pemberdayaan Orang Asli Papua.

“Jika tiga hal ini dipahami dengan baik, yaitu afirmasi, proteksi, dan pemberdayaan, maka Otonomi Khusus akan berjalan sesuai tujuan yang diharapkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan Otsus jilid II kini diperkuat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 106 dan Nomor 107 yang menjadi dasar pelaksanaan berbagai program percepatan pembangunan.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi Papua Tengah memfokuskan implementasi Otsus melalui tiga agenda utama, yakni Papua Sehat, Papua Cerdas, dan Papua Produktif.

“Papua Sehat berarti masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau. Papua Cerdas memastikan akses pendidikan yang berkualitas. Sedangkan Papua Produktif diarahkan agar masyarakat memperoleh pemberdayaan ekonomi sehingga mampu mandiri dan meningkatkan kesejahteraan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa seluruh kebijakan Otonomi Khusus harus memprioritaskan Orang Asli Papua, mulai dari afirmasi politik, penguatan peran MRP, pengutamaan ASN OAP, pengembangan ekonomi masyarakat adat, hingga penyediaan pendidikan gratis.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga terus melakukan pendataan Orang Asli Papua sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan.

“Saat ini Papua Tengah menjadi provinsi yang paling progresif dalam pendataan Orang Asli Papua dengan capaian sekitar 71,88 persen. Data ini menjadi dasar penting dalam memastikan seluruh kebijakan Otonomi Khusus benar-benar tepat sasaran,” ungkapnya.

Ia juga mengajak seluruh anggota MRP untuk aktif menyosialisasikan Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) Nomor 14 Tahun 2026 tentang Orang Asli Papua agar masyarakat memperoleh pemahaman yang benar mengenai hak-hak OAP dalam implementasi Otonomi Khusus.

Melalui kegiatan Sosialisasi Otonomi Khusus dan Training of Trainers ini, anggota MRP Papua Tengah diharapkan memiliki pemahaman yang lebih komprehensif mengenai substansi Otonomi Khusus sekaligus menjadi ujung tombak penyebarluasan informasi kepada masyarakat, sehingga implementasi Otsus benar-benar mampu mewujudkan Papua Tengah yang maju, adil, aman, dan sejahtera dengan keberpihakan kepada Orang Asli Papua sebagai prioritas utama.

(Red)

Warga Adat Makimi Kompak Tolak Isu Kedatangan Satgas PKH, Demi Lapangan Kerja.

0

Globalpapua.id, Nabire (Papua Tengah) – Kehadiran Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) ke area perusahaan Kristalin mendapat penolakan keras dari warga setempat. Perwakilan masyarakat adat Makimi, Nifasi, serta masyarakat Nusantara yang berdomisili di wilayah tersebut secara tegas menentang isu rencana penutupan operasional perusahaan tambang tersebut, Minggu (5/7/2026) siang.

Ketua Dewan Adat, Arnol Elik Manasi, memimpin langsung pertemuan terbuka yang menghadirkan puluhan warga untuk menyatukan suara. Warga menilai, isu penutupan perusahaan akan mengancam hajat hidup dan perekonomian mereka.

“Kami masyarakat adat Makimi, Nifasi, bahkan masyarakat Nusantara yang ada di wilayah adat kami ini, menolak keras PKH masuk ke wilayah adat kami!” seru salah seorang perwakilan warga di tengah kepungan massa.

Sontak, teriakan “Setuju!” membahana dari seluruh warga yang memadati lokasi pertemuan. Riuh kompak ini menegaskan bahwa penolakan tersebut merupakan keputusan bulat dari tingkat akar rumput.

Masyarakat setempat menilai kehadiran investasi di daerah mereka memberikan dampak nyata yang langsung mereka rasakan, mulai dari urusan dapur hingga masa depan anak-anak.

Egou, salah seorang warga setempat, membeberkan alasan kuat mengapa masyarakat begitu gigih membela keberadaan perusahaan Kristalin di kampung mereka.

“Kehadiran perusahaan Kristalin di wilayah Nifasi sangat membantu kami. Mereka mendongkrak ekonomi, membantu pendidikan, dan membuka lapangan kerja yang luas bagi masyarakat yang ada di wilayah ini,” ungkap Egou dengan nada optimis.

Hingga saat ini, baik pihak Satgas PKH maupun manajemen PT Kristalin belum memberikan keterangan resmi terkait ketegangan yang terjadi di lapangan. Warga berharap pemerintah mendengar aspirasi mereka sebelum mengambil langkah hukum yang berpotensi mematikan mata pencaharian lokal.

(Red)

Semarak HUT Bhayangkara Ke-80, Fun Run 5K Pererat Sinergi Polri dan Masyarakat Di Nabire

0

Globalpapua.id, Nabire, (Papua Tengah) – Ribuan langkah menyatu dalam semangat kebersamaan saat Polda Papua Tengah bersama Barisan Merah Putih (BMP) menggelar Fun Run 5 Kilometer di kawasan Bandara Lama, Jalan Jenderal Sudirman, Nabire, Sabtu (4/7/2026).

Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang mengusung tema “Polri untuk Masyarakat, Mengabdi dengan Hati Menuju Indonesia Emas 2045.”

Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Jermias Rontini, S.I.K., M.Si. secara langsung melepas peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, masyarakat umum, hingga personel TNI dan Polri.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Dandim 1705/Nabire, Wakil Bupati Nabire Burhanuddin, Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Kabupaten Nabire, para Pejabat Utama Polda Papua Tengah, Kepala BPKP Perwakilan Provinsi Papua Tengah, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Kapolda Papua Tengah mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat yang ikut memeriahkan Hari Bhayangkara melalui kegiatan olahraga. Menurutnya, Fun Run bukan sekadar ajang berlari, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat sekaligus menumbuhkan budaya hidup sehat.

“Terima kasih atas partisipasi seluruh peserta. Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi agenda yang terus kita laksanakan di Papua Tengah, khususnya di Kabupaten Nabire,” ujar Kapolda.

Ia menambahkan, olahraga bersama seperti Fun Run diharapkan mampu menginspirasi generasi muda untuk menjalani pola hidup sehat, menjauhi berbagai pengaruh negatif, serta terus mengembangkan potensi diri demi kemajuan daerah.

“Saya berharap melalui kegiatan ini semakin banyak generasi muda yang bersemangat mengembangkan potensi diri dan memberikan kontribusi positif bagi kemajuan Kabupaten Nabire dan Provinsi Papua Tengah,” katanya.

Sebelum peserta diberangkatkan, Kapolda mengajak seluruh peserta memanjatkan doa agar kegiatan berlangsung aman dan seluruh pelari dapat mencapai garis finis dengan selamat. Sebagai bentuk apresiasi, panitia juga menyiapkan berbagai hadiah doorprize bagi peserta yang beruntung.

“Siapa pun yang mendapat doorprize, itulah rezeki hari ini. Semoga seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, lancar, dan membawa manfaat bagi kita semua. Tuhan memberkati kita semua,” tutupnya.

Fun Run 5K Hari Bhayangkara ke-80 berlangsung meriah dengan antusiasme tinggi dari masyarakat. Lebih dari sekadar olahraga, kegiatan ini menjadi simbol sinergi antara Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun kebersamaan, memperkuat budaya hidup sehat, serta mewujudkan Papua Tengah yang aman, harmonis, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.

(Red)

Menjaga Pesisir, Menjaga Kehidupan: PTS Nabire Tanam 280 Bibit di Kampung Sawado Kuma

0

Globalpapua.id, Nabire, (Papua Tengah) – Komunitas Papua Trada Sampah (PTS) Nabire berkolaborasi dengan Jemaat GKI Paulus Sawado Kuma, Klasis GKI Nabire Timur, menggelar aksi penanaman pohon di kawasan pesisir Kampung Sawado Kuma, Distrik Nabire Timur, sebagai upaya mencegah abrasi pantai sekaligus mengampanyekan pentingnya pelestarian lingkungan. Jumat (3/7/2026)

Kegiatan yang dikoordinasikan oleh Jerry Oliver Simunapendi ini mendapat dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Pertanahan (DLHKP) Provinsi Papua Tengah yang menyerahkan 280 bibit pohon untuk ditanam di sepanjang kawasan pesisir.

Adapun bibit yang ditanam terdiri atas 60 bibit trembesi, 50 bibit pinang, 60 bibit pucuk merah, 60 bibit kayu besi, dan 50 bibit Barringtonia asiatica (pohon keben) yang dinilai memiliki fungsi ekologis dalam memperkuat kawasan pesisir dan menjaga keseimbangan lingkungan.

Aksi penghijauan tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat, di antaranya Jemaat GKI Paulus Nabire Timur, pegawai Dinas Pertambangan Provinsi Papua Tengah, EcoNusa, Friends Belanda, serta didukung sejumlah mitra, yaitu DLHKP Provinsi Papua Tengah, Klasis GKI Nabire Timur (Urusan Kasih dan Keadilan), Alumni SIYLEP Papua dan Papua Tengah, serta SAPA Foundation.

Sebelum penanaman dimulai, Ketua Klasis GKI Nabire Timur, Pdt. Titus Ruamba, S.Si.Theol., secara resmi membuka kegiatan melalui doa bersama sekaligus menerima secara simbolis bibit pohon yang diserahkan oleh PTS Nabire.

Koordinator PTS Nabire, Jerry Oliver Simunapendi, mengatakan bahwa aksi tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan langkah nyata untuk mengurangi dampak abrasi dan deforestasi yang semakin mengancam wilayah pesisir.

“Hari ini kami bersama Jemaat GKI Paulus Nabire Timur berhasil melaksanakan aksi penanaman 280 bibit pohon yang didukung penuh oleh DLHKP Provinsi Papua Tengah. Kami juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya deforestasi dan pentingnya reboisasi sebagai solusi menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Jerry.

Menurutnya, gerakan penghijauan harus dimulai dari lingkungan terdekat agar menjadi kebiasaan bersama.

“Kami sadar jumlah pohon yang ditanam hari ini belum mampu memulihkan kawasan hutan secara menyeluruh. Namun, langkah kecil yang dimulai dari pekarangan rumah, kawasan pantai, hingga lingkungan sekolah akan menjadi awal yang baik untuk membangun gerakan penghijauan yang berkelanjutan,” katanya.

Jerry menambahkan, PTS Nabire berkomitmen melanjutkan kolaborasi bersama berbagai pihak, termasuk pemerintah, gereja, komunitas, dan masyarakat dalam setiap aksi pelestarian lingkungan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada DLHKP Provinsi Papua Tengah atas dukungan bibit pohon serta seluruh mitra yang telah berjalan bersama PTS Nabire. Ke depan kami berharap semakin banyak pihak yang terlibat agar gerakan menjaga lingkungan menjadi tanggung jawab bersama,” tambahnya.

Sementara itu, Pdt. Karolina Ayomi, S.Si.Theol., dari Klasis GKI Nabire Timur Bidang Kasih dan Keadilan, menyampaikan apresiasi kepada PTS Nabire dan seluruh relawan yang telah hadir melaksanakan aksi penghijauan di Kampung Sawado Kuma.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada PTS Nabire dan seluruh rekan yang telah bergabung dalam aksi penanaman pohon ini. Kegiatan ini sangat bermanfaat, khususnya bagi wilayah pesisir yang selama ini mengalami abrasi, penebangan pohon, dan kerusakan lingkungan. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut sebagai bentuk kebersamaan dalam merawat ciptaan Tuhan,” ungkapnya.

Ia menilai kolaborasi antara gereja, komunitas, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga kelestarian lingkungan di Papua Tengah.

“Lingkungan yang sehat adalah warisan bagi generasi mendatang. Karena itu, kami berharap semangat kebersamaan yang terbangun hari ini dapat terus dipelihara sehingga gerakan pelestarian lingkungan tidak berhenti pada satu kegiatan saja,” katanya.

PTS Nabire juga mengungkapkan bahwa aksi penghijauan ini merupakan bagian dari gerakan lingkungan yang akan terus dilakukan sepanjang tahun. Dalam waktu dekat, komunitas tersebut kembali berkolaborasi dengan Klasis GKI Nabire Timur dalam aksi penanaman pohon memperingati Hari Disabilitas yang bertepatan dengan peringatan hari jadi pertama kegiatan tersebut pada tanggal 29 mendatang.

Melalui kegiatan ini, PTS Nabire berharap Pemerintah Provinsi Papua Tengah terus memperkuat dukungan terhadap program rehabilitasi hutan dan kawasan pesisir melalui penyediaan bibit, pendampingan, serta kebijakan yang berpihak pada pelestarian lingkungan.

Selain itu, masyarakat juga diajak untuk aktif menjaga pohon yang telah ditanam dan menghentikan praktik penebangan liar maupun aktivitas yang berpotensi merusak kawasan pesisir.

“Deforestasi bukan hanya menjadi persoalan pemerintah atau kelompok tertentu, melainkan ancaman bagi seluruh masyarakat. Dampaknya dirasakan bersama, mulai dari abrasi pantai, hilangnya sumber air, meningkatnya risiko bencana, hingga perubahan iklim. Karena itu, upaya menjaga hutan dan pesisir harus dilakukan secara kolaboratif agar lingkungan tetap lestari bagi generasi yang akan datang.”Tutup Jerry.

(Red)

GAMKI Nabire Ajak Generasi Muda Perkuat Persatuan Lewat Seminar Wawasan Kebangsaan

0

Globalpapua.id, NABIRE – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Nabire menggelar Seminar Wawasan Kebangsaan bertajuk “1 Juli dalam Perspektif Sejarah dan Kebangsaan, Memperkuat Persatuan, Menjaga Papua Tengah Damai dan Membangun Masa Depan dalam Bingkai NKRI” di Aula RRI Nabire, Jumat (3/7/2026).

Seminar yang diikuti sekitar 170 peserta dari kalangan mahasiswa dan pemuda gereja tersebut bertujuan memperkuat pemahaman sejarah, wawasan kebangsaan, serta menumbuhkan semangat nasionalisme dan persatuan di kalangan generasi muda Papua Tengah. Kegiatan dibuka oleh Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Kabupaten Nabire, Benony Ayorbaba, yang membacakan sambutan Bupati Nabire.

Ketua Karateker DPC GAMKI Nabire, Yusuf Simbiak, mengatakan seminar ini menjadi ruang akademik untuk membangun pemahaman sejarah secara objektif sekaligus memperkuat komitmen menjaga persatuan dan kedamaian di Papua Tengah.

“Perbedaan pandangan terhadap sejarah hendaknya disikapi melalui dialog, kajian ilmiah, dan semangat persaudaraan, bukan dengan kebencian maupun tindakan yang dapat mengganggu ketenteraman masyarakat. Generasi muda harus menjadi agen perdamaian serta berperan aktif dalam membangun Papua Tengah yang aman dan harmonis dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua DPD GAMKI Provinsi Papua Tengah, Anis Labene, menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang mampu menjaga persatuan, mendorong pembangunan, serta menciptakan Papua Tengah yang damai dan sejahtera.

Guru Besar Hukum Universitas Cenderawasih, Prof. Dr. Melkias Hetharia, S.H., M.A., M.Hum., yang tampil sebagai narasumber utama, menegaskan bahwa peristiwa 1 Juli harus dipahami secara objektif sebagai bagian dari sejarah Papua, namun tidak mengubah fakta konstitusional bahwa Papua merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Persatuan tidak dibangun melalui paksaan, melainkan melalui dialog, kerja sama, penghormatan terhadap keberagaman, serta pemerataan pembangunan. Masa depan Papua ditentukan oleh kualitas pendidikan, kesejahteraan masyarakat, perlindungan hak masyarakat adat, dan terciptanya situasi yang aman serta damai,” tegasnya.

Seminar ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang mendorong peserta untuk bijak menggunakan media sosial, meningkatkan literasi sejarah, serta memperkuat karakter kebangsaan demi menjaga stabilitas keamanan dan persatuan di Papua Tengah.

(Red)

Mimika Pamerkan Kopi Amungme Gold dan Tarian Kreasi di Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar 2026 di Nabire

0

Nabire – Kabupaten Mimika menunjukkan optimisme tinggi dalam mengikuti Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Tahun 2026 Provinsi Papua Tengah yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah. Salah satu peserta, Nike Enjeli Rotin Adadikam dari SMK Negeri 6 Mimika, menyampaikan harapannya agar Kabupaten Mimika dapat meraih prestasi terbaik dalam ajang tersebut. Selain mengikuti Lomba Pameran Budaya dan Dekorasi Stand, kontingen Mimika juga menampilkan tarian kreasi bertema pengobatan anak kepala suku sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.

Dalam pameran budaya, kontingen Mimika turut memperkenalkan produk unggulan daerah berupa Kopi Amungme Gold. Produk yang dipamerkan terdiri dari Kopi Amungme Gold Arabika dan Kopi Amungme Gold Robusta dalam bentuk kopi bubuk kemasan 250 gram. Kopi Arabika dipasarkan dengan harga Rp250.000 per kemasan, sedangkan Kopi Robusta dijual seharga Rp200.000 per kemasan.

“Harapan kami mengikuti Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Papua Tengah Tahun 2026 ini adalah memberikan penampilan terbaik dan mengharumkan nama Kabupaten Mimika. Tentunya kami berharap Kabupaten Mimika dapat pulang sebagai juara,” ujar Nike Enjeli Rotin Adadikam.

Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Tahun 2026 Provinsi Papua Tengah menjadi wadah bagi para pelajar dari berbagai kabupaten untuk menampilkan kreativitas, bakat, dan kekayaan budaya daerah masing-masing.

Nike mengaku bangga dapat mewakili sekolah dan daerahnya dalam festival yang berlangsung di Nabire tersebut.

“Kami datang ke Nabire untuk mengikuti Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Tahun 2026 Provinsi Papua Tengah. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi kami untuk bertemu dengan pelajar dari berbagai daerah, menampilkan kemampuan yang kami miliki, serta memperkenalkan budaya Kabupaten Mimika kepada masyarakat luas,” katanya.

Menurutnya, festival tersebut tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga sarana mempererat persaudaraan antarpelajar serta menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Papua Tengah.

Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Tahun 2026 diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang kreatif, berprestasi, dan tetap menjaga nilai-nilai budaya sebagai identitas daerah di tengah perkembangan zaman.

FGD II RPPLH 2026 Digelar di Nabire, Kadis Yan Pugu : RPPLH Jadi Arah Lingkungan 30 Tahun Kedepan di Papua Tengah

0

Globalpapua.id, NABIRE – Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Pertanahan (DLHKP) menggelar Focus Group Discussion (FGD) II Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Provinsi Papua Tengah Tahun 2026 di Aula RRI Nabire.

Kegiatan tersebut menjadi tahapan lanjutan dalam penyusunan dokumen RPPLH yang akan menjadi pedoman utama perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di Papua Tengah selama 30 tahun ke depan. Kamis (2/7/2026).

FGD II dihadiri Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Setda Papua Tengah Herman Kayame, Ketua Tim Ahli Penyusun RPPLH Dr. Endang Hernawan, narasumber dari Direktorat Perencanaan Strategis dan Analisis Kebijakan (PSDAB) Kementerian Lingkungan Hidup secara daring, unsur TNI-Polri, pimpinan OPD, kepala dinas lingkungan hidup delapan kabupaten, mitra pembangunan, serta perwakilan masyarakat adat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Pertanahan Provinsi Papua Tengah Yan Richard Pugu, S.Hut., M.Si mengatakan, FGD II merupakan tindak lanjut dari pembahasan pertama yang telah dilaksanakan pada 16 April 2026 lalu sebagai implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2025 tentang Penyusunan Dokumen RPPLH.

Menurutnya, dokumen tersebut akan menjadi acuan dalam seluruh kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di Papua Tengah sehingga setiap program pembangunan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

“Dokumen RPPLH ini nantinya menjadi rujukan bagi seluruh kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di Provinsi Papua Tengah. Karena itu, seluruh pemangku kepentingan kami libatkan agar dapat memberikan masukan berdasarkan kondisi dan karakteristik lingkungan yang ada,” ujar Yan Richard Pugu dalam sambutannya.

Ia menjelaskan, pada FGD pertama tim ahli bersama para peserta telah mengidentifikasi sejumlah isu strategis lingkungan hidup di Papua Tengah. Melalui FGD II, berbagai isu tersebut kembali dipertajam sekaligus dirumuskan langkah-langkah mitigasi agar pembangunan tetap berjalan seimbang dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Dalam forum tersebut, peserta dibagi ke dalam sejumlah kelompok diskusi yang membahas tema perlindungan lingkungan, pemulihan lingkungan, pemanfaatan dan pencadangan sumber daya alam, pendayagunaan sumber daya alam, hingga penerapan dekarbonisasi dan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim.

Yan berharap seluruh peserta dapat memberikan masukan yang konstruktif sehingga RPPLH mampu menjadi dokumen yang kuat sebagai dasar pembangunan berkelanjutan di Provinsi Papua Tengah.

“Kami berharap melalui forum ini lahir berbagai gagasan dan rekomendasi yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan daerah dengan perlindungan lingkungan hidup sesuai semangat otonomi daerah di Papua Tengah,” katanya.

Dalam sesi wawancara, Yan Richard Pugu menegaskan bahwa RPPLH merupakan dokumen strategis yang bersifat wajib dan menjadi induk seluruh kebijakan perlindungan lingkungan, termasuk rehabilitasi dan reboisasi.

“RPPLH merupakan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2025. Dokumen ini adalah induk dari seluruh kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Sifatnya mandatori sehingga harus disusun secara matang, bukan hanya untuk kepentingan daerah tetapi juga menjadi bagian dari sistem perencanaan nasional,” ujar Yan.

Ia menjelaskan, penyusunan dokumen dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan pemerintah, masyarakat adat, akademisi, hingga mitra pembangunan untuk menghimpun berbagai isu strategis yang berkembang di Papua Tengah.

“Kami melibatkan seluruh pemangku kepentingan agar isu-isu lingkungan yang berkembang dapat dihimpun secara komprehensif. Pada FGD pertama kami telah mengidentifikasi sekitar delapan isu utama, dan pada tahap kedua ini seluruh isu tersebut dipertajam sebagai dasar penyusunan dokumen RPPLH,” jelasnya.

Yan menambahkan, sesuai ketentuan, RPPLH akan berlaku selama 30 tahun, yakni periode 2026–2056, serta menjadi acuan bagi penyusunan berbagai dokumen perencanaan pembangunan daerah.

“Dokumen RPPLH akan menjadi dasar bagi penyusunan RPJPD, RPJMD maupun Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Seluruh instrumen pembangunan daerah nantinya harus mengacu pada RPPLH agar pembangunan tetap berjalan dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan,” tegasnya.

Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Papua Tengah berkomitmen menjadikan perlindungan lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari agenda pembangunan.

“Pemerintah Provinsi Papua Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Meki Fritz Nawipa tetap memprioritaskan pembangunan yang selaras dengan kelestarian lingkungan. RPPLH akan menjadi instrumen untuk mengawal setiap kebijakan pembangunan agar tetap mempertimbangkan aspek lingkungan demi keberlanjutan Papua Tengah di masa depan,” tutup Yan Richard Pugu.

(Fira)

BMP RI Nabire Gelar Stand Up Comedy Kebangsaan, Permenas Maniani : “lewat tawa kita perkuat persatuan demi wujudkan papua tengah maju”

0

Globalpapua.id, NABIRE – Barisan Merah Putih (BMP) RI Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kabupaten Nabire berkolaborasi dengan Komunitas Stand Up Indo Nabire menggelar kegiatan Stand Up Comedy Kebangsaan di Aula RRI Nabire. Kegiatan bertema “Mari Tong Ketawa dan Bahagia untuk Papua Tengah Damai dan Indonesia Maju” tersebut diselenggarakan sebagai media hiburan edukatif dalam rangka memperingati Hari Lelucon Sedunia sekaligus memeriahkan Hari Bhayangkara ke-80.

Ketua DPC BMP RI Kabupaten Nabire, Permenas Maniani, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menghadirkan hiburan yang sarat dengan pesan kebangsaan, sekaligus mempererat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Papua Tengah.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat menjadikan tawa sebagai perekat persaudaraan serta memperkuat semangat persatuan demi Papua Tengah yang damai dan Indonesia yang maju,” ujar Permenas Maniani.

Menurutnya, stand up comedy tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga media edukasi yang mampu menyampaikan pesan-pesan kebangsaan, toleransi, persatuan, dan cinta tanah air dengan cara yang ringan, cerdas, dan mudah diterima masyarakat.

Mewakili Bupati Nabire Mesak Magai, Sekretaris Daerah Kabupaten Nabire, La Halim, mengapresiasi inisiatif DPC Barisan Merah Putih RI Kabupaten Nabire yang menggelar Stand Up Comedy Kebangsaan bertepatan dengan peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi ruang positif bagi generasi muda dan masyarakat untuk mempererat kebersamaan melalui hiburan yang mengandung pesan persatuan.

“Ini merupakan inisiatif yang sangat baik dari DPC Barisan Merah Putih Kabupaten Nabire. Bertepatan dengan Hari Bhayangkara ke-80, kegiatan ini mampu merangkul anak muda dan masyarakat untuk berkumpul, tertawa bersama, sekaligus memperkuat persatuan. Melalui kolaborasi TNI, Polri, pemerintah daerah, dan Forkopimda, kita berharap keamanan dan kedamaian di Kota Nabire terus terjaga,” kata La Halim.

Dalam kesempatan tersebut, Permenas Maniani juga menyampaikan ucapan selamat Hari Bhayangkara ke-80 serta memberikan apresiasi kepada Polri atas dedikasinya dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Ia berharap sinergi antara Polri, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat terus terjalin dalam menciptakan situasi yang aman dan kondusif, sehingga pembangunan di Papua Tengah dapat berjalan dengan baik.

Selain itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban, menolak segala bentuk provokasi, ujaran kebencian, maupun penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Kegiatan yang berlangsung di Aula RRI Nabire tersebut dihadiri unsur pemerintah daerah, Forkopimda, TNI-Polri, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, insan pers, serta Komunitas Stand Up Indo Nabire. Acara ditutup dengan penampilan para komika yang membawakan materi bertema kebangsaan sebagai pesan damai, persatuan, dan kebersamaan bagi masyarakat Papua Tengah.

(Red)

Gubernur Meki Nawipa: “Papua Tengah Butuh ASN yang Melayani, Berintegritas, dan Inovatif” dalam Penyerahan SK 919 PNS

0

Globalpapua.id, NABIRE – Sebanyak 919 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua Tengah resmi menerima Surat Keputusan (SK) pengangkatan sekaligus mengucapkan sumpah/janji jabatan dalam sebuah prosesi yang berlangsung di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Nabire. Rabu (1/7/2026).

Jumlah tersebut terdiri atas 843 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), 6 tenaga honorer kategori II (K2) tahap pertama, serta 70 tenaga honorer K2 tahap kedua, sehingga total keseluruhan mencapai 919 orang.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Sambutan Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, dibacakan oleh Silwanus Sumule.

Dalam sambutan tertulisnya, Gubernur menegaskan bahwa proses pengangkatan dan pengambilan sumpah/janji PNS telah dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai manajemen Aparatur Sipil Negara.

“Perlu saya sampaikan bahwa pelaksanaan pengambilan sumpah/janji ini telah melalui tahapan sesuai dengan ketentuan tentang manajemen Aparatur Sipil Negara yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil,” ujar Meki Nawipa dalam sambutan yang dibacakan Sekda Papua Tengah, Silwanus Sumule.

Menurutnya, momentum tersebut bukan sekadar penyerahan dokumen administrasi kepegawaian maupun pelaksanaan seremonial, melainkan menjadi awal pengabdian sebagai aparatur negara, abdi masyarakat, dan pelayan publik yang memiliki tanggung jawab moral, hukum, serta profesional dalam menjalankan tugas.

“Hari ini merupakan titik awal pengabdian yang sesungguhnya sebagai aparatur negara, abdi masyarakat, dan pelayan publik yang memiliki tanggung jawab moral, hukum, dan profesional dalam menjalankan tugas,” katanya.

Gubernur juga mengingatkan bahwa seluruh PNS yang diangkat telah melalui proses seleksi yang kompetitif serta masa percobaan sebagai CPNS. Karena itu, kepercayaan yang diberikan negara harus dijawab dengan dedikasi, integritas, disiplin, dan kinerja terbaik.

Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Papua Tengah saat ini terus mempercepat pembangunan di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pemberdayaan ekonomi masyarakat hingga penguatan tata kelola pemerintahan yang bersih dan profesional. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan ASN yang memiliki semangat melayani, inovatif, berintegritas, dan mampu bekerja sama membangun daerah.

“Untuk mewujudkan tujuan tersebut dibutuhkan ASN yang memiliki semangat melayani, inovatif, berintegritas, serta mampu bekerja sama dalam membangun daerah,” tegasnya.

Meki Nawipa juga mengingatkan bahwa pengangkatan sebagai PNS tidak hanya berdampak pada peningkatan kesejahteraan dan jenjang karier, tetapi juga membawa konsekuensi berupa tanggung jawab yang lebih besar sebagai aparatur negara.

Ia meminta seluruh PNS untuk terus meningkatkan disiplin kerja sesuai ketentuan yang berlaku, serta mengimplementasikan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara dengan menjunjung tinggi profesionalisme, netralitas, integritas, dan akuntabilitas.

Selain itu, kepada para kepala perangkat daerah, Gubernur berpesan agar terus melakukan pembinaan, pendampingan, dan memberikan ruang pengembangan kompetensi bagi para PNS sehingga mampu memberikan kontribusi terbaik bagi pemerintah maupun masyarakat.

Menutup sambutannya, Gubernur Papua Tengah menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh PNS yang telah menerima SK dan mengucapkan sumpah/janji.

“Saya menyampaikan selamat dan sukses kepada para Pegawai Negeri Sipil yang telah mengambil sumpah atau janji pada hari ini.

Tingkatkan terus kinerja, jaga kebersamaan dan sinergi dalam pelaksanaan tugas untuk kemajuan Provinsi Papua Tengah yang kita cintai. Selamat bekerja, dan semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa melimpahkan berkat dan karunia serta perlindungan-Nya kepada kita semua,” tutupnya.

(Red)

Gelorakan Semangat Hari Bhayangkara ke-80, Polri Siap Jaga Stabilitas Papua Tengah

0

Globalpapua.id, Nabire (Papua Tengah) – Lapangan Kantor Gubernur Papua Tengah, Nabire, menjadi saksi khidmatnya upacara peringatan Hari Bhayangkara ke-80 pada Rabu (1/7/2026). Momentum ini sekaligus mempertegas komitmen kuat Polri untuk terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di tengah tantangan keamanan yang kian kompleks.

Brigjen Pol. Jermias Rontini memimpin langsung jalannya upacara sebagai Inspektur Upacara. Acara ini juga dihadiri oleh Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa, unsur Forkopimda Papua Tengah, para pejabat utama Polda Papua Tengah, pimpinan instansi vertikal, tokoh masyarakat, serta jajaran tamu undangan lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolda Papua Tengah membacakan amanat tertulis dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Melalui amanatnya, Presiden Prabowo menyampaikan ucapan selamat Hari Bhayangkara ke-80 kepada seluruh keluarga besar Polri di penjuru tanah air.

Presiden mengapresiasi tinggi dedikasi, kerja keras, dan pengorbanan seluruh anggota Polri yang tanpa kenal lelah menjaga stabilitas keamanan nasional secara profesional.

“Tema Hari Bhayangkara ke-80 tahun ini, ‘80 Tahun Mengabdi, Polri Untuk Masyarakat’, mengandung makna bahwa seluruh perjalanan pengabdian Kepolisian Negara Republik Indonesia bermuara pada satu tujuan luhur, yaitu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” bunyi amanat Presiden yang dibacakan oleh Kapolda.

Presiden menegaskan bahwa Polri harus mewujudkan pengabdiannya lewat pelayanan yang responsif, profesional, serta memberikan manfaat nyata. Keberhasilan Polri, menurut Presiden, tidak hanya bersandar pada penegakan hukum, melainkan juga pada sejauh mana masyarakat merasakan kehadiran negara melalui layanan kepolisian.

Presiden juga menyoroti berbagai tantangan global yang semakin kompleks, seperti rivalitas geopolitik, ancaman kejahatan siber, kejahatan transnasional, hingga ketidakpastian ekonomi global. Kondisi ini menuntut Polri untuk terus bertransformasi menjadi institusi yang adaptif, prediktif, dan responsif.

Di sisi lain, Presiden memuji kontribusi nyata Polri dalam mengawal program strategis nasional. Kontribusi tersebut meliputi:

Mengawal Program Makan Bergizi Gratis.

Mendukung swasembada pangan lewat peningkatan produksi jagung nasional.

Memberantas narkoba, penyelundupan, dan judi online.

Membangun rumah bagi anggota Polri maupun masyarakat.

Mengamankan investasi serta proyek strategis nasional.

Untuk menghadapi tantangan masa depan, Presiden Prabowo memberikan lima arahan strategis kepada seluruh jajaran Polri:

Memperkuat reformasi kelembagaan agar semakin profesional, transparan, akuntabel, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan publik.

Meningkatkan profesionalitas personel dalam pelayanan dan penegakan hukum dengan memanfaatkan teknologi informasi secara optimal.

Memperkuat kapasitas SDM agar mampu menghadapi ancaman keamanan multidimensional di era digital.

Meningkatkan fleksibilitas organisasi agar adaptif terhadap perubahan lingkungan strategis berbasis data, prediktif, dan kolaboratif.

Memperkuat legitimasi institusi dengan menjaga integritas, meningkatkan komunikasi publik, merespons cepat keluhan masyarakat, serta membangun kepercayaan publik.

Sebagai penutup, Presiden mengingatkan bahwa tugas utama Polri adalah menjaga kepercayaan masyarakat.

“Jadikan setiap tugas sebagai ibadah, jadikan setiap pelayanan sebagai kehormatan, dan jadikan kepercayaan rakyat sebagai alasan utama kita memakai seragam ini. Polri yang kuat adalah Indonesia yang aman, Indonesia yang aman adalah Indonesia yang maju,” tegas Presiden dalam pesannya.

Upacara Hari Bhayangkara ke-80 di Papua Tengah ini berjalan tertib dan penuh semangat kebangsaan. Momentum ini berhasil memperkuat sinergi antara Polri, pemerintah daerah, TNI, dan seluruh elemen masyarakat untuk menjaga keamanan serta mendukung roda pembangunan di Tanah Papua.

(Red)

MOST COMMENTED

- Advertisement -