Globalpapua.id, NABIRE, (Papua Tengah) — Sinergi cepat antara Polres Nabire dan pihak sekolah berhasil menyelamatkan puluhan pelajar dari potensi paparan paham ekstrem. Berkat penanganan yang sigap dan persuasif, sebanyak 64 remaja yang sempat diamankan saat kegiatan di Pantai Waroki kini telah dikembalikan kepada orang tua masing-masing untuk mendapatkan pembinaan khusus.

Peristiwa ini bermula pada Sabtu pekan lalu usai jam kegiatan ekstrakurikuler sekolah sekitar pukul 11.00 WIT. Niat awal para siswa yang hanya ingin menikmati akhir pekan dengan acara berkumpul dan bakar ikan di pantai diduga dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk menyisipkan agenda perekrutan organisasi luar sekolah, yakni Ikatan Pemuda Pelajar Pegunungan Papua Tengah (IPPT).

Wakapolres Nabire, Kompol Dr. Piter Kendek, S.Sos., M.M., menjelaskan bahwa pihak kepolisian bertindak cepat begitu menerima laporan adanya aktivitas yang mengarah pada penyebaran ideologi bertentangan dengan Pancasila dan NKRI. Dalam pemeriksaan di lokasi, petugas mengamankan sejumlah barang bukti berupa dua bendera Bintang Kejora, sajam (sangkur dan pisau), serta beberapa buku catatan berisi pemahaman ekstrem.

Meski demikian, mengingat mayoritas peserta adalah pelajar kelas 10 yang masih memiliki mental labil dan terpengaruh euforia sesaat, kepolisian bersama pihak sekolah sepakat mengedepankan pendekatan edukatif ketimbang proses pidana formal.

“Dari total 64 orang yang diamankan, sebanyak 56 anak yang tidak terbukti terlibat langsung dalam doktrinasi telah dipulangkan lebih awal setelah membuat surat pernyataan bersama pihak sekolah. Sementara 8 orang yang diperiksa lebih mendalam juga telah dipulangkan pada hari Minggu dengan pendampingan orang tua,” ungkap Kompol Piter Kendek.

Kepala Sekolah SMA YPK Tabernakel, Suardiman Dayadi, membenarkan bahwa beberapa siswanya terkejut saat mengetahui acara santai di pantai tersebut disusupi agenda doktrinasi organisasi yang tidak terdaftar di sekolah.

“Di sekolah, kami hanya mengakui satu organisasi resmi siswa, yaitu OSIS. Anak-anak pamitnya hanya untuk rekreasi bakar ikan, ternyata ada ajakan dari oknum luar. Kami bergerak cepat mendampingi mereka dan akan memberikan sanksi serta pembinaan terukur agar hal serupa tidak terulang,” tegas Suardiman.

Sebagai lembaga pendidikan berbasis keagamaan, Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) berkomitmen untuk meningkatkan pembinaan karakter, nilai-nilai kebangsaan, serta penguatan spiritualitas agar para murid memiliki benteng diri yang kuat dari provokasi negatif.

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Nabire tentang krusialnya peran pengawasan orang tua. Jam belajar di sekolah yang terbatas menuntut hadirnya komunikasi yang aktif dan peka di lingkungan rumah.

Pihak kepolisian mengimbau para orang tua untuk lebih perhatian terhadap lingkungan pergaulan anak-anak mereka. Edukasi positif dan pemahaman nilai kebangsaan yang ditanamkan sejak dini dari rumah dinilai menjadi kunci utama dalam melindungi masa depan generasi muda Papua dari pengaruh yang dapat merugikan diri sendiri maupun masyarakat luas.

(Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini