Sabtu, September 26, 2026
Google search engine

MRP Papua Tengah Minta Satgas PKH Hormati Hak Masyarakat Adat

0

Globalpapua.id, NABIRE – Pemerintah dan instansi terkait diminta untuk tidak keliru memahami kedudukan antara Lembaga Masyarakat Adat (LMA) dengan masyarakat hukum adat yang otentik di tanah Papua. Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah, Agustinus Anggaibak, menegaskan hal tersebut secara langsung dalam jumpa pers di ruang kerjanya, Kantor MRP Papua Tengah, Nabire. Selasa (1/9/2026).

Agustinus menyampaikan bahwa LMA merupakan organisasi yang dibentuk oleh pemerintah, sedangkan masyarakat hukum adat telah berdiri jauh sebelum hadirnya struktur pemerintahan maupun agama. Oleh karena itu, seluruh kebijakan hingga penegakan hukum di wilayah Papua Tengah wajib berlandaskan pada pengakuan murni terhadap tatanan adat setempat.

Dalam kesempatan tersebut, Agustinus mengimbau pemerintah daerah agar memangkas birokrasi pelaporan ke Kesbangpol atau kementerian terkait, dan berfokus menerbitkan SK Pengakuan Hak Adat bagi warga lokal. Mengenai pemisahan peran ini, Agustinus Anggaibak menegaskan,

“Masyarakat hukum adat itu sudah ada sebelum ada pemerintah dan agama. Yang penting adalah pemerintah memberikan SK pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat di atas tanah ini.”

Ia juga menambahkan perihal perbedaan posisi dengan lembaga formal, “Kalau LMA dan lain-lain silakan mau urus urusan apa terserah, tetapi kalau masyarakat hukum adat itu sudah ada sebelum pemerintah ada di sini.”

Menanggapi langkah penertiban oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) di Provinsi Papua Tengah, Ketua MRP mengharapkan adanya sinergi yang kuat dan penghormatan penuh terhadap struktur adat lokal.

Kehadiran Satgas PKH hendaknya tidak berjalan sepihak, melainkan wajib berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta melibatkan tokoh adat setempat agar tindakan penertiban kawasan hutan tidak merugikan masyarakat hukum adat yang bergantung pada wilayah tersebut.

Langkah ini dinilai penting agar upaya perlindungan hutan dan penegakan hukum dapat berjalan lancar tanpa mengabaikan nilai-nilai serta hak-hak dasar Orang Asli Papua (OAP) di Papua Tengah.

(Alvi)

Ketua MRP Papua Tengah Sentil DPR Papua Tengah: Stop Saling Serang, Fokus Bangun Daerah

0

Globalpapua.id, NABIRE — Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Tengah, Agustinus Anggaibak, memberikan teguran keras kepada para pimpinan lembaga legislatif (DPR) dan partai politik di wilayahnya. Ia meminta para elit politik menghentikan aksi saling serang dan kritik destructive yang hanya didasari kepentingan kelompok, lalu mulai bersatu membangun Provinsi Papua Tengah sebagai daerah otonom baru (DOB).

Agustinus menegaskan bahwa Papua Tengah dibentuk dengan jajaran pemerintahan yang serba baru, mulai dari jajaran MRP, Gubernur, hingga DPR. Sebagai lembaga pembawa aspirasi kultur masyarakat Papua, MRP menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi yang harmonis antara pihak eksekutif dan legislatif. Selasa (1/9/2026).

“Papua Tengah ini provinsi baru, daerah baru, dan dipimpin oleh orang-orang baru. Kita harus meletakkan fondasi yang kuat. Tidak perlu saling menjatuhkan atau mengkritik hanya karena kepentingan politik partisan, sementara pembangunan daerah diabaikan,” tegas Agustinus dalam jumpa pers di ruang kerjanya.

Ia secara khusus menyoroti sikap oknum anggota DPR yang kerap melempar kritik terbuka mengenai APBD atau pengelolaan keuangan daerah ke publik tanpa adanya koordinasi awal. Menurutnya, DPR adalah pihak yang memegang palu pengesahan anggaran, sementara pemerintah daerah bertindak sebagai eksekutor.

“DPR itu pemegang palu kebijakan anggaran. Kalau anggaran sudah diketok lalu eksekutif menjalankan, kenapa DPR menyalahkan eksekutif? Itu membingungkan rakyat dan menunjukkan ketidakpahaman internal. Lebih baik duduk bersama, koordinasi antara Gubernur dan DPR jika ada hal yang kurang pas,” tambahnya.

Agustinus juga mengingatkan anggota dewan untuk tidak hanya sibuk berdebat di balik meja atau kursi empuk, sementara rakyat di lapangan menderita akibat konflik sosial dan pertikaian. Ia mendesak para wakil rakyat yang dipilih langsung oleh masyarakat untuk turun langsung ke daerah-daerah rawan konflik dan memberikan pelayanan nyata.

(Alvi)

Perkuat Sinergi TNI-Rakyat, Korem 173/PVB Gelar Maulid Nabi 1448 H di Nabire

0

Globalpapua.id, NABIRE – Korem 173/Praja Vira Braja menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Aula Makorem 173/PVB, Nabire. Kegiatan ini menjadi ajang untuk memperkuat silaturahmi sekaligus memantapkan sinergi antara TNI dan masyarakat. Selasa (1/9/2026).

Mengusung tema pemantapan tekad kemanunggalan TNI dan rakyat menuju Indonesia yang maju dan berdaulat, acara ini dihadiri oleh jajaran prajurit, civitas akademika, panitia penyelenggara, hingga elemen masyarakat setempat.

Danrem 173/PVB Brigjen TNI Vivin Alivianto menegaskan, peringatan ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momen refleksi untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam menjalankan tugas sehari-hari.

“Peringatan Maulid Nabi hendaknya menjadi momentum bagi kita semua untuk mengenang, memahami, dan meneladani akhlak serta keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari,” kata Danrem dalam sambutannya.

Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dan mengingatkan pentingnya kerja sama yang berlandaskan integritas. Menurutnya, kolaborasi dengan keikhlasan, komitmen, dan profesionalisme adalah kunci agar TNI terus hadir memberikan manfaat nyata bagi warga.

Melalui kegiatan keagamaan ini, Korem 173/PVB berharap nilai-nilai moral dan keteladanan Nabi Muhammad SAW dapat terus memperkokoh persatuan bangsa, menjaga keharmonisan, serta membawa keberkahan dan keselamatan bagi seluruh masyarakat di lingkungan Korem 173/PVB.

(Alvi)

Gelar Sosialisasi Kearsipan, Gubernur Meki Nawipa Tegaskan Pentingnya Akuntabilitas Daerah Baru

0

Globalpapua.id, NABIRE – Dalam upaya memperkuat sistem tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan efisien di wilayah daerah otonomi baru, Pemerintah Provinsi Papua Tengah menggelar Sosialisasi Tata Cara Implementasi Peraturan Tata Naskah Dinas dan Kearsipan. Kegiatan yang berlangsung di Aula Ballroom Gubernur Papua Tengah. dihadiri oleh jajaran Staf Ahli Gubernur, Asisten Sekda, serta pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Selasa (1/9/2026).

Mewakili Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa, Marthen Ukago membuka secara resmi agenda strategis tersebut. Sosialisasi ini turut menghadirkan narasumber teknis dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) guna menyeragamkan standar penyusunan dokumen pemerintahan dan pengelolaan arsip sebagai aset informasi daerah.

Dalam sambutannya, Marthen Ukago menekankan pentingnya pembentukan pondasi administrasi yang kokoh sejak awal berdirinya provinsi.

“Tata naskah dinas dan kearsipan bukan sekadar urusan administratif, melainkan bagian penting dari akuntabilitas, kepastian hukum, transparansi, dan kualitas pelayanan pemerintahan. Sebagai provinsi baru, kita bertanggung jawab membangun sistem yang tertib sejak awal,” tegas Marthen.

Selain penguatan tata kelola kearsipan, sosialisasi ini meluncurkan Standard Operating Procedure (SOP) penandatanganan surat Gubernur melalui call center Tata Usaha Pimpinan, Staf Ahli, dan Biro Hukum. Inovasi ini dihadirkan guna memangkas alur birokrasi sehingga proses administrasi dapat berjalan lebih cepat dan responsif.

Guna memastikan implementasi berjalan optimal, Biro Hukum Setda Papua Tengah ditugaskan untuk melakukan pendampingan teknis secara berkelanjutan serta evaluasi berkala di setiap OPD.

“OPD yang sehat bukan hanya yang dokumennya lengkap, melainkan yang mampu membuktikan dokumen tersebut benar-benar digunakan dalam proses kerja. Harapan kita bersama, kegiatan ini meningkatkan kapasitas aparatur demi terwujudnya tata kelola pemerintahan yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel,” pungkasnya.

(Alvi)

Minim Armada Khusus Karhutla, BPBDKP Papua Tengah Berjibaku Hadapi Dampak El Nino

0

Globalpapua.id, NABIRE — Keterbatasan sarana dan prasarana (sarpras) menjadi tantangan berat bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Keselamatan Pesisir (BPBDKP) Provinsi Papua Tengah dalam menanggulangi dampak El Nino dan ancaman kekeringan hingga akhir 2026.

Kondisi kritis sempat terjadi di Kabupaten Nabire pada 19–22 Agustus lalu. Lonjakan titik api akibat pembukaan lahan oleh warga memaksa petugas memadamkan hingga 10 titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam sehari. Senin (31/8/2026).

Sekretaris BPBDKP Papua Tengah, Martinus Rumbino, mengakui lonjakan tersebut sempat membendung kapasitas operasional dan tenaga di lapangan. Selama ini, armada yang dimiliki pada dasarnya dirancang untuk pemadaman kebakaran pemukiman, bukan medan karhutla.

“Kemarin sekitar tanggal 19 ke atas kami tangani 9 sampai 10 titik sehari. Itu sudah overload dari sisi operasional dan tenaga. Armada kami sebenarnya disiapkan untuk kebakaran bangunan, tetapi karena ini bagian dari tugas dan fungsi, kami tetap turun,” kata Rumbino.

Situasi mulai terkendali setelah pemerintah daerah menggelar koordinasi lintas sektor bersama TNI, Polri, dan SKPD terkait guna menyokong bantuan personel, pasokan air, hingga patroli wilayah.

Meski BMKG mencatat titik hotspot di Nabire kini mendekati nol akibat curah hujan, BPBDKP menyoroti urgensi mitigasi jangka panjang. Rumbino mendesak pemerintah daerah segera mengalokasikan pengadaan armada taktis khusus karhutla serta peremajaan alat operasional.

“Ini jadi pembelajaran pertama bagi kita dalam menghadapi kekeringan akibat El Nino. Kami berharap pemda memfasilitasi peningkatan sarpras agar wilayah Papua Tengah lebih tangguh menghadapi ancaman bencana iklim,” tutup Rumbino.

(ALVI)

UPBU Nabire Sosialisasi Aturan Senjata Api di Bandara, Dishub PPT: Sinkronkan Persepsi Safety Penerbangan

0

Globalpapua.id, NABIRE – Rapat Komite Keamanan Penerbangan dan Forum Konsultasi Publik resmi digelar di Aula RRI Nabire. untuk memperkuat koordinasi serta menyamakan persepsi seluruh pemangku kepentingan penerbangan. Mengusung tema “Bersama Mewujudkan Keamanan Penerbangan yang Aman, Selamat, dan Berkelanjutan”, forum rutin tiga kali setahun ini dinilai semakin krusial seiring hadirnya berbagai instansi dan unit pelaksana teknis baru pasca-pembentukan Provinsi Papua Tengah. Senin (31/8/2026).

Pertemuan berkala tersebut menjadi momentum vital untuk menyegarkan kembali pemahaman budaya keamanan penerbangan, khususnya saat terjadi rotasi kepemimpinan di tingkat instansi. Salah satu fokus utama yang disosialisasikan dalam forum ini mencakup prosedur penanganan senjata api bagi pejabat atau pimpinan instansi di area bandar udara guna mencegah terjadinya gesekan operasional di lapangan.

Plt Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Douw Aturure Nabire, Alrido Simandjuntak, menegaskan pentingnya penyelarasan aturan tersebut bagi seluruh mitra kerja.

“Tujuannya sebenarnya hanya untuk menyinkronkan atau menyamakan persepsi tentang program-program keamanan yang tujuannya untuk keselamatan penerbangan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga menguraikan alasan di balik penekanan aturan senjata api di area terlarang bandara. “Melalui kampanye dan rapat komite ini kami menyampaikan bahwa aturan penanganan senjata api di bandara seperti ini. Diharapkan instansi terkait memahami aturan sehingga tidak terjadi gesekan dalam operasional,” pungkas Alrido.

Melalui penyelenggaraan giat ini, seluruh pihak diharapkan dapat terus membangun komunikasi yang solid dan berkelanjutan, sehingga keamanan, keselamatan, serta kenyamanan para pengguna jasa penerbangan di Wilayah Nabire dan Papua Tengah dapat senantiasa terjaga secara optimal.

(Alvi)

EPPD Papua Tengah: Birokrasi Dituntut Tak Sekadar Habiskan Anggaran

0

Globalpapua.id, NABIRE— Pemerintah Provinsi Papua Tengah menggelar Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EPPD) berbasis Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) delapan kabupaten se-Provinsi Papua Tengah di Aula Ballroom Gubernur Papua Tengah, Nabire, Senin (31/8/2026).

Forum strategis ini dirancang untuk membongkar efektivitas otonomi daerah agar tak melenceng dari amanat Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2019.

Langkah ini menjadi krusial di tengah besarnya ekspektasi publik terhadap daerah otonom baru (DOB). Penyelenggaraan pemerintahan dituntut tidak hanya tertib di atas kertas, tetapi juga berimbas nyata pada peningkatan kualitas hidup warga di delapan kabupaten wilayah Papua Tengah.

Mewakili Sekretaris Daerah Papua Tengah Silwanus Sumule, Staf Ahli III Gubernur Bidang Pemerintahan, Politik, dan Hukum Marthen Ukago menegaskan bahwa evaluasi ini bertindak sebagai alat pembinaan dan pengendalian, bukan sekadar pemenuhan beban administratif tahunan.

“Jangan sampai evaluasi hanya berhenti pada pemenuhan dokumen, tetapi tidak mencerminkan kualitas pelayanan publik serta manfaat pembangunan yang dirasakan masyarakat,” tegas Marthen.

Catatan mendasar yang diusung Pemprov Papua Tengah mencakup pergeseran indikator keberhasilan daerah. Penyerapan anggaran belanja yang tinggi tak lagi menjadi satu-satunya tolok ukur utama jika kesenjangan sosial di tengah masyarakat masih membelenggu.

“Keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah pada akhirnya tidak hanya diukur dari terserapnya anggaran, tetapi dari sejauh mana program tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, memperluas akses pelayanan dasar, serta mendorong kesejahteraan rakyat,” lanjut Marthen.

Hasil rekomendasi dari forum EPPD ini diharapkan segera dieksekusi menjadi agenda kerja konkret oleh setiap perangkat daerah. Sinergi antara pemerintah provinsi dan delapan kabupaten kunci utamanya, guna memastikan tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan benar-benar berorientasi pada kesejahteraan masyarakat Papua Tengah.

(Alvi)

Suku Wate Nabire Datangi DPR RI, Desak Satgas PKH Stop Ganggu Hak Ulayat Nifasi

0

Globalpapua.id, JAKARTA — Masyarakat adat Kampung Makimi dan Nifasi dari Suku Wate, Papua Tengah, mendatangi Gedung DPR RI dan DPD RI di Jakarta untuk menyerahkan surat aspirasi terkait perlindungan hak ulayat mereka. Langkah ini ditempuh guna menuntut pengembalian tanah adat serta penolakan atas aktivitas pengelolaan wilayah tambang emas oleh Satgas PKH di tanah milik mereka. Jumat (28/8/2026).

Perwakilan tokoh perempuan adat Suku Wate, Yantris, menegaskan bahwa penyerahan surat aspirasi tertulis tersebut dilakukan agar parlemen mendesak pihak terkait segera keluar dari wilayah hukum adat yang telah dikuasai warga secara turun-temurun.

“Kami minta kepada pemerintah untuk mengembalikan hak adat kami yang mana telah dirampas oleh Satgas PKH. Kami minta dengan tegas agar hak kami dikembalikan. DPR RI ini wajib untuk memperhatikan wilayah tambang emas yang sementara kami kelola, dan PKH segera angkat kaki dari wilayah hukum adat kami. Tanah adat ini sudah kami kuasai beribu-ribu tahun yang lalu sampai saat ini,” ujar Yantris di Jakarta.

Masyarakat adat Makimi dan Nifasi berharap agar tanah ulayat Papua Tengah dapat dikelola secara mandiri oleh warga setempat sesuai dengan kewenangan Undang-Undang Otonomi Khusus yang berlaku. Mereka menggantungkan harapan besar kepada lembaga legislatif pusat untuk menindaklanjuti aspirasi tersebut, sehingga hak ekonomi dan hukum adat masyarakat Papua Tengah dapat terpelihara tanpa adanya intervensi pihak luar.

“Tanah adat Papua, khususnya Kampung Makimi dan Nifasi adalah milik kami. Untuk itu, Satgas PKH kami minta untuk tidak mengelola di atas tanah kami, sehingga kami sendiri yang bisa mengelola dan menikmati hasilnya sesuai dengan Undang-Undang Otonomi Khusus,” tegas salah satu perwakilan masyarakat adat Makimi dan Nifasi.

(Alvi)

Pemerintah Kabupaten Nabire Tanggap Dampak El Nino, Bantuan Sumur Bor Mulai Direalisasikan di Distrik Nabire Barat

0

Globalpapua.id, NABIRE (Papua Tengah) — Pemerintah Kabupaten Nabire bergerak cepat mengatasi krisis air bersih dan kekeringan akibat dampak El Nino yang melanda wilayah Distrik Nabire Barat.

Melalui instruksi langsung Bupati Nabire yang ditindaklanjuti oleh pihak Kodim dan Koramil, program pembuatan sumur bor kini resmi dimulai.

Kepala Distrik Nabire Barat, Osea Paul Wakei, S.S.T.P., M.M., mengonfirmasi bahwa penentuan titik sumber air telah selesai dilakukan dan pengerjaan fisik dijadwalkan dimulai pada hari Senin.

Lokasi awal pengerjaan berada di wilayah Kampung Wadio, sebelum nantinya dilanjutkan ke beberapa kampung lain seperti Kampung Gerbang Sadu, Bumi Raya, Kali Semen, dan Waroki.

Selain mengawal program bantuan air bersih, Osea Paul Wakei juga memberikan imbauan tegas kepada seluruh lapisan masyarakat terkait kondisi musim kemarau yang berkepanjangan. Warga diminta untuk tidak membakar sampah sembarangan maupun membuka lahan dengan cara dibakar, karena berpotensi memicu kabut asap dan mengganggu kesehatan masyarakat sekitar.

Pihak distrik berharap bantuan sumur bor dari Bupati Nabire ini dapat dimanfaatkan dan dirawat dengan baik oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sambil menantikan program bantuan lanjutan lainnya dari pemerintah daerah.

(Red)

Pemerintah Salurkan Bantuan Sumur Bor di Kampung Wadio Antisipasi Dampak El Nino

0

Globalpapua.id, NABIRE (Papua Tengah) — Pemerintah daerah menyalurkan bantuan pembuatan satu unit sumur bor yang berlokasi di area Masjid Al-Anshar SP 3, Kampung Wadio, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, pada Sabtu (29/8/2026).

Kepala Kampung Wadio, Wartinah, menyampaikan apresiasinya atas bantuan yang diberikan untuk membantu masyarakat dalam mengatasi kelangkaan air bersih akibat musim kemarau dan dampak fenomena El Nino.

Pemilihan area Masjid Al-Anshar sebagai titik pembuatan sumur bor didasarkan pada luas lahan yang memadai serta kemudahan akses bagi seluruh warga.

Aksesibilitas: Posisi sumur di bagian depan area masjid mempermudah warga Kampung Wadio untuk mengambil air bersih.

Fungsi Utama: Air yang dihasilkan nantinya diperuntukkan bagi kebutuhan harian warga, mulai dari konsumsi, memasak, hingga mandi dan mencuci.

Opsi Alternatif: Apabila titik awal belum menghasilkan sumber air yang optimal, pihak kampung bersama aparat terkait telah menyiapkan opsi pemindahan ke area Balai Desa atau lokasi potensial lainnya sesuai hasil survei Koramil setempa

Selain krisis air bersih, fenomena kemarau panjang ini juga memberikan dampak serius bagi sektor pertanian dan kesehatan masyarakat di wilayah Kampung Wadio.

Sektor Pertanian: Para petani setempat mengalami kegagalan panen total akibat kekeringan yang melanda lahan pertanian.

Kesehatan dan Keluhan Warga: Kabut asap tebal yang menyelimuti kawasan tersebut mulai mengganggu kenyamanan warga, seperti keluhan mata pedih dan sesak napas.

Pengawasan Lingkungan: Pihak pemerintah kampung terus melakukan penelusuran untuk memastikan titik sumber asap, meski hingga saat ini belum ditemukan titik pembakaran di dalam wilayah Kampung Wadio.

Pemerintah Kampung Wadio berharap program bantuan air bersih ini dapat berjalan lancar sehingga mampu meringankan beban masyarakat yang terdampak kekeringan.

(Red)

MOST COMMENTED

- Advertisement -